Kota Kinabalu
Enam bulan setelah tsunami. Di Indonesia kita sudah hampir melupakannya. Di Kota Kinabalu, jauh di utara borneo, peristiwa iu masih dikenang. Dan ThinkTax mengingat dengan jelas bagain-bagian dari peristiwa tersebut ketika berkunjung ke Centre Point, mall utama di Kota Kinabalu.
Ya, di situ diadakan pameran foto, yang memajang foto-foto kejadian Tsunami, mulai dari Srilanka, Thailand, dan tentu saja foto-foto Nanggroe Aceh Darusssalam. Pengunjung ada yang takjub(?). ThinkTax, merasa lebih takjub, tetapi tetap tidak dapat merasakan seperti mereka yang mengalaminya.
Masih dalam proses pengembangan??
Gunung Kinabalu

Gunung tertinggi, di Negara Bagian Sabah (4095,2 m dpl).
Penggemar pendaki gunung, dapat melakukan pendakian sepanjang tahun. Pemesanan tempat dapat dilakukan melalui internet, ongkos pendakian (makan, hotel Laban Rata dan administrasi) lebih kurang Rp 1juta (satu juta rupiah). Bagi penggemar pendaki gunung awam di Indonesia, artinya amat sangat mahal. Tapi ya, begitulah.
Low'S Peak

Meski Low artinya rendah, tapi Low's Peak itu nama puncak tertinggi di Gunung Kinabalu. Hari itu ThinkTax merupakan satu diantara seratus enam puluhan orang yang berkunjung ke sana. Kabarnya perjalanan ke Low's Peak sampai dua bulan kedepan sudah dipesan penuh. Kok iya, ya. Gunung kita gimana?
Laban Rata

Laban Rata, bidang tanah rata di ketinggian 3200 m dpl. Ada penginapan 20 kamar @ 8 tempat tidur = 160 kamar. Jumlah pendaki setiap hari dibatasi maksimal hingga sejumlah ini 160.
Pos Taman Kinabalu - Laban Rata
Semua pendaki yang sudah terdaftar harus melapor ke Pos Taman Kinabalu 1600 m dpl), untuk mendapatkan label nama (name tag), dan Guide (wajib). Pendaki kemudian dibawa dengan bus ke Pos awal pendakian (1900 m dpl), untuk memulai pendakian. Pos awal hingga Laban Rata rata-rata ditempuh dalam waktu 5 jam. Pada Pos awal pendakian setiap pendaki yang masuk diabsen ketat.
Rintisan Pendakian Gunung Gede biasa juga disebut rintisan tol, terbuka, lebar, tertata. Kinabalu, dapat disebut tol VIP, jalan tertata, bertangga-tangga. sejak pendakian pertama hingga Laban Rata. Pos perhentian hampir tiap kilometer, tersedia air dan tandas (wc)-nya. Pendaki tidak perlu membawa banyak perbekalan. Sesampai di Laban Rata sudah tersedia makan malam prasmanan. Tidur di kamar berpenghangat ruangan. Makan subuh sebelum mendaki Pukul 2 pagi.
Laban Rata - Sayat-sayat - Low'S Peak
Jalan agak sedikit curam dan sempit, tetapi semua yang sulit bertangga, semua yang curam diberi pengaman tali berdiameter satu inchi untuk pengaman bagi pendaki. Bahkan sejak pos terakhir Sayat-sayat (di sini batas akhir tanaman), bentangan tali tidak terputus hingga low's Peak sejauh tiga kilometer. Di Pos Sayat-sayat, pendaki diabsen lagi, absen naik. Dari sayat-sayat hingga puncak melalui batuan granit dan lava beku. Laban Rata Puncak +/- 3 jam.
Ada pemandangan Puncak Telinga Keledai, Puncak Mirip Gorila, dan pemandangan dari ketinggian yang biasa yang semua pendaki gunung pasti bisa merasakannya.
Low'S Peak - Pos Taman Kinabalu
Turun dari Low'S Peak hingga Laban Rata tidak bermasalah. Di Laban Rata menikmati sarapan pagi prasmanan lagi. Tentu saja harus melewati Pos Sayat-sayat, absen turun. Kalau terus kembali, turun dari Laban Rata melewati Pos Pendakian Awal, pendaki diabsen keluar. Menjelang sore sudah sampai ke Pos Taman Kinabalu.
Memang lebih sulit mendaki Semeru, atau Rinjani. Tetapi, yang namanya naik gunung tetap aja memerlukan tenaga dan kemauan ekstra.
Kesimpulan : Manajemen tertata, kelestarian terjaga, penduduk sekitar ikut sejahtera. Tapi memang, jadi ada harga.
Masih dalam proses pengembangan??